Minggu, 24 Oktober 2010

Tentang Feminisme


Oleh: Moh. Rafiuddin
Pengertian Feminisme berarti Gerakan Perempuan. Feminisme mulai muncul saat era Pencerahan di Eropa di abad 19 yang dipelopori oleh Lady Mary Wortley Montagu dan Marquis de Condorcet. Perkumpulan masyarakat ilmiah untuk perempuan muncul pertama kali didirikan di Middelburg, sebuah kota di selatan Belanda pada tahun 1785.
Perempuan di negara-negara penjajah seperti negara Eropa memperjuangkan apa yang mereka sebut sebagai universal sisterhood. Kata feminisme dikreasikan pertama kali oleh aktivis sosialis utopis, Charles Fourier pada tahun 1837. Pada awalnya gerakan diperlukan pada masa itu,untuk memperjuangkan kebebasan perempuan. Sejarah dunia menunjukkan bahwa secara umum kaum perempuan (feminin) merasa dirugikan dalam semua bidang seperti bidang sosial, pekerjaan, pendidikan, dan politik.
Di Indonesia sendiri gerakan feminisme dimulai oleh RA Kartini. Ia memperjuangkan hak yang sama atas pendidikan bagi anak-anak perempuan. Hal ini terbukti dari sebuah suratnya untuk Prof. Anton tanggal 4 Oktober 1902, yang dimuat dalam buku yang berjudul Habis Gelap terbitlah Terang: “Awalnya inti dari Feminisme adalah persamaan hak untuk mendapatkan pendidikan.”

Di dalam teori penindasan gender adalah Feminisme psikoanalitis berpandangan bahwa ketidakadilan yang dialami oleh perempuan adalah akibat dari sistem patriarki di mana maskulinitas dianggap lebih baik daripada femininitas. Sementara itu, feminisme radikal berpendapat sistem patriarki merupakan bentuk praktik kekerasan dan penindasan oleh laki-laki dan organisasi yang dikuasai laki-laki terhadap perempuan. Penindasan tersebut dalam bentuk kekerasan fisik dan non-fisik. Penindasan menurut feminisme radikal adalah akibat dari perbedaan biologis, dan basis dari subordinasi adalah institusi keluarga. Penindasan tersebut membentuk hubungan dominasi laki-laki terhadap perempuan.
Teori feminisme lain yang telah dikembangkan antara lain adalah feminisme postmodern, feminisme multicultural global, serta ekofeminisme. Ekofeminisme memi-liki pandangan yang berbeda dengan aliran feminisme lain, di mana teori ini justru mengajak manusia untuk mengembalikan dan menambah kualitas feminin pada kegiatan manusia dalam pembangunan. Tujuan ekofeminisme ini adalah menumbuhkan rasa cinta kelembutan, keibuan, dan pengasuhan kepada dunia, yang dapat mengurangi kerusakan lingkungan akibat kegiatan manusia yang terlalu maskulin.
Istilah feminis kemudian berkembang secara negatif ketika media lebih menonjolkan perilaku sekelompok perempuan yang menolak penindasan secara vulgar (mis: membakar bra). Sebenarnya, setiap orang yang menyadari adanya ketidak adilan atau diskriminasi yang dialami oleh perempuan karena jenis kelaminnya, dan mau melakukan sesuatu untuk mengakhiri ketidak adilan diskriminasi tersebut, pada dasarnya dapat disebut feminis.
Pandangan Feminis Dari Tokoh Filsafat
Tokoh-tokoh falsafah era Yunani menganggap kedudukan wanita adalah rendah berbanding kaum lelaki. Malah, Thomas Aquinas, seorang ahli falsafah yang kuat pegangan agama pernah menyatakan, bahawa wanita sebenar tidak lengkap tanpa lelaki. Dalam tradisi masyarakat bangsa Arab sebelum Islam. Kaum wanita juga dianggap sebagai tidak penting dan dipandang rendah oleh masyarakat, malah bayi perempuan yang baharu lahir akan ditanam hidup-hidup kerana dianggap membawa `sial` kepada keluarga.
Sekian lama, kaum lelaki telah menjadi `kuasa` penentu dalam semua urusan kehidupan, termasuk dalam hal ehwal yang berkait dengan wanita. Di semenanjung Arab, Islam diturunkan untuk membebaskan wanita daripada perspektif songsang masyarakat dengan meletakkannya sama taraf dengan kaum lelaki di sisi Allah.
Tujuan dari Feminisme
Sebagai suatu gerakan, feminisme berupaya untuk membangun strategi politik untuk mencampuri kehidupan sosial demi kepentingan perempuan
Kategori feminisme secara umum
Feminisme Liberal dan Sosialis
Feminisme liberal dan sosial sama-sama berpijak pada anggapan bahwa perbedaan laki-laki dan perempuan bukanlah merupakan faktor biologis yang abadi melainkan lebih sebagai konstruksi sosio-ekonomi dan kultural. Feminisme liberal menekankan kesetaraan dalam segala bidang dan bisa terwujud dalam kerangka struktur ekonomi dan hukum. Feminisme sosialis menunjuk keterkaitan antara kelas dan gender sebagai akibat dari kapitalisme
Feminisme Perbedaan
Lebih menekankan pada perbedaan esensial antara lelaki dan perempuan. Melepaskan asumsi umum bahwa perempuan merupakan makhluk yang lemah dan tak berdaya. Menganggap bahwa ada perbedaan individual pada perempuan yang seharusnya perlu diapresiasi (apresiasi perbedaan)
Feminisme Hitam Dan Pascakolonial
Beranggapan bahwa klonialisme dan rasisme telah membentuk struktur hubungan kekuasaan yang mengakibatkan beban ganda pada perempuan hitam dimana selain disubordinasikan sebagai perempuan oleh kaumnya (pribumi) juga disubordinasikan karena koloni atau ras.
Feminisme Pascastrukturalis
Menganggap bahwa seks/kelamin dan gender merupakan konstruksi sosial dan kultural. Karenanya femininitas dan maskulinitas bukanlah kategori yang bersifat universal dan abadi melainkan merupakan konstruksi diskursif dan subyektif.

Referensi

Budiman, A. 1985. Pembagian Kerja Secara Seksual: Sebuah Pembahasan Sosiologis tentang Peran Wanita di Dalam Masyarakat. Jakarta: Gramedia.
Fakih, M. 1996. Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Megawangi, R. 1999. Membiarkan Berbeda?: Sudut Pandang Baru tentang Relasi Gender. Bandung: Mizan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar