Oleh: Moh. Rafiuddin
Kupandang dia
Tak kulihat warna kulitnya
Terlntas dalam benakku bahwa dia berbeda,
namun hanya sejenak
Aku tidak mencemaskan perbedaan-perbedaan;
Hanya memprihatinkan air matanya yang menetes
dan hatinya yang merintih pedih
Kulitnya nan gelap
Tak mengusik kecantikan unik wajahnya
Atau keindahan jiwanya
Kupeluk dia,
Menenangkannya,
Berharap bias mengusir ke pedihannya
Namun tak bias kupahami kesedihannya
Sikap tak beperasaan seorang pria picik….
Meskipun mencoba mengabaikan ke etnikan kami,
Tak bias kami abaikan kebencian yang mengelilingi kami.
Suara pria,
Teramat parau,
Membuka matanya.
Tiba-tiba dia melihatku
Sebagai “salah satu dari mereka”.
Dia menarik dari diriku,
Masih terisak,
Ingin rasanya kami serupa.
Namun tidak.
Dan keindahan perbedaan.
Kupandang dia
Tak kulihat warna kulitnya
Terlntas dalam benakku bahwa dia berbeda,
namun hanya sejenak
Aku tidak mencemaskan perbedaan-perbedaan;
Hanya memprihatinkan air matanya yang menetes
dan hatinya yang merintih pedih
Kulitnya nan gelap
Tak mengusik kecantikan unik wajahnya
Atau keindahan jiwanya
Kupeluk dia,
Menenangkannya,
Berharap bias mengusir ke pedihannya
Namun tak bias kupahami kesedihannya
Sikap tak beperasaan seorang pria picik….
Meskipun mencoba mengabaikan ke etnikan kami,
Tak bias kami abaikan kebencian yang mengelilingi kami.
Suara pria,
Teramat parau,
Membuka matanya.
Tiba-tiba dia melihatku
Sebagai “salah satu dari mereka”.
Dia menarik dari diriku,
Masih terisak,
Ingin rasanya kami serupa.
Namun tidak.
Dan keindahan perbedaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar